Cara Mengajar Anak Paud TK SD yang Baik dan Efektif

Cara Mengajar Anak Paud TK SD yang Baik dan Efektif

Langkah paling awal untuk menciptakan suatu pembelajaran yang efisien adalah dengan menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dan nyaman bagi siswa maupun guru. Bagaimana cara-nya? Berikut kita jabarkan beberapa langkah konkretnya.

Pengkondisian area Belajar
Ruang belajar sanggup dianalogikan sebagai sebuah kolam. Jika kolam itu kotor dan tidak ada sirkulasi hawa yang baik maka ikan bakalan tidak nyaman. Begitu juga dengan ruang belajar,jika ruangan tidak kondusif maka kegiatan belajar yang efisien tidak bakal terwujud. Lalu bagaimana teknik pengkondisian ruang belajar agar guru sanggup mengajar dengan efektif? Check this out!

Pastikan ruang kelas (ruang pembelajaran) di dalam kondisi bersih dan rapi agar konsentrasi pembelajaran tidak pecah cuma karena adanya kotoran atau barang berserakan yang mengganggu pandangan.
Lengkapi ruang kelas dengan media-media yang bakal digunakan di dalam pembelajaran di kelas. Secara tidak segera perihal ini mengakibatkan anak antusias.
Penataan area duduk cocok dengan kegiatan pembelajaran yang bakal dilakukan di hari itu. Seringkali di beberapa sekolah penataan area duduk tidak beralih selama bertahun-tahun. Bayangkan saja terkecuali anak SD selama 6 th. area duduknya “gitu-gitu aja”, apakah tidak bosan? Tentu bosan. Satu yang sanggup guru terapkan adalah mengubah posisi penataan area duduk di kelas secara berkala.
Perhatikan sirkulasi hawa dan berikan memadai minyak wangi untuk menaikkan kesegaran hawa di kelas. Karena sudah pasti terkecuali di kelas terdapat bau yang tidak enak pasti bakal mengganggu kenyamanan belajar.
Pembelajaran tidak bakal membosankan terkecuali kelas di dekorasi dan dihias dengan beraneka hiasan kelas dan dekorasi kelas yang menarik. Guru dengan dengan siswa sanggup mengfungsikan dekorasi kelas dan hiasan kelas yang beragam. Seperti hiasan berasal dari kertas origami, kertas crap, balon, sedotan, poster, dan lain sebagainya.

Pengkondisian Kesiapan Psikis Siswa untuk Belajar
Pengkondisian kesiapan psikis anak benar-benar penting untuk jalankan pembelajaran yang efektif. Karena terkecuali kala berasal dari awal kondisi psikis anak tidak cukup baik, maka percuma saja semua materi dan nilai yang guru ajarkan dan tanamkan kepada siswa. Entah karena berasal dari awal siswa tidak dorongan belajar, entah siswa tengah punyai beban pikiran, entah siswa tengah merasakan kesedihan, entah siswa ada rasa takut / tidak cukup percaya diri, perihal ini bakal menghindar sistem belajar siswa di kelas. Lalu bagaimana step-step pengkondisian kesiapan psikis siswa untuk belajar? Berikut ini tips nya.

Mengajak siswa untuk berbarengan berdoa dan sampaikan juga urgensi berasal dari berdoa.
Memulai pembelajaran dengan sedikit joke/humor untuk memantik senyum dan tawa siswa. Karena rasa gembira diawal pembelajaran punyai peran penting di dalam membangun antusias dan minat belajar siswa
Sharing plus Caring. Sesi “berbagi cerita” juga sanggup diimplementasikan di pra-pembelajaran. Melalui kegiatan sharing cerita, uneg-uneg/beban pikiran/kesedihan/rasa takut dan seterusnya di dalam diri siswa sanggup tercurahkan agar selanjutnya bakal sanggup focus untuk belajar.

Pengkondisian Kesiapan Fisik Siswa untuk Belajar
Fisik juga kudu dikondisikan agar siswa sanggup mengikuti sistem pembelajaran dengan baik. Jika sebelum akan belajar siswa terlihat tidak cukup focus, mengantuk, loyo dan seterusnya maka siswa selanjutnya bakal sulit menangkap ilmu yang bakal dipelajari. Berikut ini beberapa langkah pengkondisian kesiapan fisik siswa sebelum akan belajar.

Mengajak siswa untuk bernyanyi. Bisa menyanyikan lagu nasional, lagu area maupun lagu anak-anak. Dengan bernyanyi, dorongan siswa bakal jadi terbangun.
Mengajak siswa untuk meneriakkan yel-yel. Tujuannya serupa dengan bernyanyi, yakni untuk menumbuhkan semangat.
Asah konsentrasi siswa dengan kegiatan variasi tepuk yang di acak. (tepuk tunggal ganda trio, tepuk cepat lambat, tepuk lembut keras, tepuk diam dll)
Asah konsentrasi siswa melalui kegiatan gerakan acak (marina menari, pegang hidung mata bibir dahi dagu, kepala pundak lutut kaki dll)
Mengajak siswa untuk mengatur nafas panjang dan dan nafas pendek.
Mengajak siswa untuk gerak dan lagu (chicken dance, topi saya bundar, dll)

Pengkondisian Minat Belajar Siswa
Pengkondisian minat belajar siswa penting dilakukan untuk membangun kedisiplinan keefektifan sistem pembelajaran. Berikut langkah yang sanggup guru lakukan.

Guru memberikan cakupan materi yang bakal dipelajari dan kegiatan apa saja yang bakal dilakukan selama sistem pembelajaran. Dengan ini siswa bakal sanggup membayangkan apa yang bakal dilakukan selama sistem pembelajaran nanti.
Guru memberikan alasan mengapa kudu mempelajari materi dan obyek sehabis mempelajari materi yang bakal dibahas. Dengan begitu siswa bakal jelas pentingnya mempelajari materi yang diberikan oleh guru. Sehingga harapannya siswa bakal termotivasi untuk belajar.
Guru mengfungsikan metode pembelajaran yang menarik dan variatif. (diskusi, kuis,simulasi,bermain peran,presentasi,pengamatan,penilaian antar teman,lokakarya,field trip,studi literasi,e-learning, dll)
Guru menyajikan fasilitas pembelajaran yang menarik dan variatif. (media pembelajaran interaktif, fasilitas pembelajaran berbasis audio, fasilitas visual, fasilitas audio visual, dll)
Pengondisian Antusias Siswa di Tengah Pembelajaran
Terkadang beberapa siswa bakal jadi bosan, letih, atau mengantuk di tengah kegiatan belajar mengajar. Maka langkah yang sanggup diterapkan guru adalah sebagai berikut.

Guru kembali menumbuhkan focus belajar dengan kegiatan saling sapa (Hai Helo, dll)
Guru menginstruksikan siswa untuk saling pijat pundak dengan kawan disampingnya secara bergantian.
Guru mengajak siswa meneriakkan tepuk/yel-yel semangat.
Guru mengajak siswa ke luar kelas sejenak untuk mengamati lingkungan kurang lebih (bisa dengan berikan penugasan yang melibatkan kegiatan pengamatan lingkungan sekitar)
Guru mengajak siswa jalankan games/kuis yang tentang dengan materi pembelajaran.
Pengkondisian Akhir Pembelajaran
Pengkondisian di akhir pembelajaran juga kudu diperhatikan oleh guru agar ilmu yang sudah diperoleh oleh siswa tidak terlupakan begitu saja. Berikut tips pengkondisian di akhir pembelajaran.

Guru mengajak siswa untuk mereview kembali apa saja yang sudah dipelajari selama sistem pembelajaran.
Guru meminta siswa untuk menuliskan apa saja hal-hal menarik berasal dari kegiatan yang sudah dilakukan.
Guru berikan apresiasi kepada siswa atas sistem belajar yang sudah dilaksanakan.
Guru mengadakan tebak tepat untuk memancing ingatan siswa mengenai materi yang sudah dipelajari.

Menerapkan Pembelajaran Interaktif (Interactive Learning)
Interaktif berarti ada komunikasi aktif antara guru dengan siswa, antara fasilitas pembelajaran dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa. Maka berasal dari itu guru kudu sanggup men-desain pembelajaran yang sanggup menampakkan komunikasi aktif selama KBM. Beberapa tips untuk guru agar sanggup mengimplementasikan Active Interaction Learning antara lain :

Guru kudu banyak mengadakan diskusi klasikal di dalam pembelajaran. Sehingga siswa bakal terpacu untuk memberikan ide dan pendapatnya.
Guru kudu berikan peluang siswa untuk mempresentasikan hasil karya/hasil pekerjaannya.
Guru memfasilitasi siswa di dalam kegiatan belajar kelompok.
Guru di dalam memberikan ceramah pembelajaran kudu memperhatikan teknik bicara, teknik eye contact, ekspresi wajah, sampai penentuan kata di dalam penyampaian poin-poin materi yang disampaikan. Hal ini penting agar siswa tetap antusias untuk memperhatikan pas guru berceramah.
Guru mengfungsikan fasilitas pembelajaran interaktif.

Merancang Pembelajaran yang Aplikatif (Applied Learning)
Pembelajaran yang aplikatif berarti suatu kegiatan belajar yang menuntut siswa untuk jalankan praktek segera untuk lebih jelas materi. Lebih mudahnya, kita sanggup kenakan arti “learning by doing”, belajar dengan praktek langsung. Nah, segera saja, ini dia beberapa umpama penerapan applied learning.

Pengamatan/Observasi sanggup diterapkan untuk mempelajari materi yang tentang dengan pengenalan suatu fenomena yang ada di lingkungan kurang lebih (contoh: pengamatan ekosistem di sawah, pengamatan pemakaian sumber energy, pengamatan pertumbuhan tanaman, dll)
Simulasi dilakukan untuk mempelajari materi yang tentang dengan keterampilan merangkai/menyusun/membuat sesuatu. (contoh: merangkai kronologis listrik sederhana, merancang pesawat sederhana, mengakibatkan kincir angin, dll)
Sosiodrama/Bermain peran. Sosiodrama dan bermain peran diterapkan untuk mempelajari materi yang tentang dengan penanaman karakter. (contoh : bermain peran berdasarkan sebuah cerita yang didalamnya berisi nilai kejujuran, kesabaran, bijaksana, dll)
Demonstrasi diterapkan untuk mempelajari materi yang tentang dengan keterampilan di dalam mempraktikkan suatu materi. (contoh: demonstrasi pembacaan puisi, demonstrasi pembacaan pidato, dll)
Wawancara sanggup diterapkan untuk mempelajari materi yang begitu banyak ragam cocok dengan kompetensi narasumber. (contoh: wawancara dengan warga, wawancara dengan polisi, wawancara dengan petugas puskesmas, wawancara dengan pedagang, dan seterusnya )
Pembuatan Proyek/Produk. Pembuatan Proyek/Produk sanggup diterapkan di dalam materi pembelajaran yang mempunyai tujuan untuk sanggup membuahkan proyek/produk. (contoh: keterampilan mengakibatkan anyaman bamboo, keterampilan mengakibatkan poster, keterampilan mengakibatkan kompor berasal dari barang bekas, dan seterusnya )

Pemantauan, Analisis dan Pengkategorian (Scanning plus Levelling)
Setiap anak punyai karakteristik individu dan tingkat kecerdasan yang berbeda. Maka berasal dari itu, menganalisis perbedaan anak dan tingkat kecerdasan anak benar-benar penting dilakukan di dalam mengajar anak Paud/TK/SD . Setelah menganalisis, guru bakal sanggup jalankan kategorisasi dan merancang pembelajaran yang tepat untuk setiap kategori kecerdasan anak. Bagaimana beberapa langkah konkretnya? Berikut ulasannya.

Guru sanggup menganalisis tingkat kecerdasan anak melalui pencapaian hasil belajar anak. (nilai tugas, nilai ulangan harian, nilai UTS, nilai UAS, hasil penilaian proses, hasil penilaian portofolio, dll)
Guru menerapkan langkah belajar auditori di dalam KBM. Auditori adalah langkah belajar yang lebih mengandalkan pendengaran. Contohnya adalah guru memberikan materi dengan ceramah, pemutaran music kala belajar, jelas materi melalui pemutaran rekaman, merangkum isikan berita yang didengar berasal dari radio, dll. Setelah itu, guru sanggup lihat hasil belajar siswa untuk kemudian sanggup jelas siapa saja siswa yang punyai model belajar auditori.
Guru menerapkan langkah belajar visual di dalam KBM.Visual adalah langkah belajar yang lebih mengandalkan penglihatan/pengamatan. Contohnya adalah guru memberikan materi melalui penampilan presentasi ppt, pemutaran video pembelajaran, jelas materi melalui pengamatan lingkungan sekitar, merangkum isikan cerita berasal dari penayangan video, dll. Setelah itu, guru sanggup lihat hasil belajar siswa untuk kemudian sanggup jelas siapa saja siswa yang punyai model belajar visual.
Guru menerapkan langkah belajar kinestetik di dalam KBM.Kinestetik adalah langkah belajar yang lebih mengandalkan indra peraba dan aktifitas fisik. Contohnya adalah guru memberikan materi melalui alat peraga (alat peraga rangka manusia, alat peraga organ tubuh, alat peraga kronologis listrik sederhana, dll), belajar melalui kegiatan praktikum, jelas materi melalui kegiatan simulasi, jelas cerita dengan praktek sosiodrama, dll. Setelah itu, guru sanggup lihat hasil belajar siswa untuk kemudian sanggup jelas siapa saja siswa yang punyai model belajar kinestetik.
Guru menyatukan semua hasil pemikiran tingkat kecerdasan siswa dan langkah belajar siswa.
Guru mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kecerdasan. (cerdas, tidak cukup cerdas, dan kudu bimbingan)
Guru mengelompokkan siswa berdasarkan langkah belajar. (auditori, visual, dan kinestetik)
Guru menerapkan pembelajaran yang mengacu terhadap langkah belajar auditori, visual, dan kinestetik secara sepadan agar semua siswa sanggup belajar dengan baik cocok dengan langkah belajar masing-masing.
Guru berikan perhatian tertentu kepada siswa yang masuk di dalam kategori kudu bimbingan dan sanggup menjadikan siswa berkategori cerdas sebagai tutor sebaya bagi kawan yang kudu bimbingan.

Membiasakan Diskusi dan Memberi Umpan Balik (Discussion plus feedback)
Kegiatan diskusi dan perlindungan umpan balik oleh guru adalah perihal yang kudu ada di dalam pembelajaran. Diskusi mempunyai tujuan untuk mempertajam pemahaman siswa dan memecahkan kasus (tentang suatu materi) secara bersama-sama. Sedangkan feedback (umpan balik) adalah jawaban sekaligus penguatan berasal dari guru mengenai materi yang tengah dibahas. Umpan balik penting dilakukan untuk memastikan siswa jelas materi pembelajaran. Berikut ini Ragam diskusi yang sanggup diterapkan di kelas.

Diskusi klasikal (Rain Storming Group). Diskusi siswa lingkup satu kelas. Setiap siswa bebas untuk bertanya, menjawab, dan berpendapat.
Diskusi Panel. Diskusi siswa lingkup satu kelas tapi di dalam satu kelas dibagi di dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok mewakilkan 1-2 bagian sebagai juru bicara di dalam bertanya, menjawab, maupun berpendapat.
Diskusi WholeGroup. Diskusi dengan jumlah maksimal 15 orang per kelompok.
Diskusi Buzz Group. Diskusi dengan jumlah maksimal 4-6 orang per kelompok.
Diskusi Sundicate Group. Diskusi kelompok kecil 3-5 orang. Setiap kelompok yang ada di kelas mendiskusikan kasus yang berbeda.
Mejelaskan Materi melalui Bercerita (Story Telling)
Cara seterusnya di dalam mengajar anak Paud TK SD adalah dengan menerapkan metode bercerita. Metode bercerita adalah penyampaian atau penyajian materi pembelajaran secara lisan oleh guru di dalam wujud cerita/dongeng. Story telling bakal lebih sanggup menarik antusias peserta didik daripada ceramah biasa. Maka berasal dari itu, story telling menjadi satu alternative penting bagi guru untuk mendapatkan langkah mengajar anak PAUD/TK/SD agar pembelajaran berjalan efektif. Ada beberapa teknik story telling yang sanggup guru terapkan, yakni sebagai berikut.

Bercerita dengan alat peraga boneka.
Bercerita dengan alat peraga gambar seri.
Bercerita dengan fasilitas visual tanpa nada (animasi)
Bercerita dengan alat peraga wayang
Bercerita sambil menggambar
Bercerita melalui papan flanel
Bercerita melalui buku pop up

Selengkapnya : https://www.ruangguru.co.id/

Author: eadp0