Analisis SWOT Jabatan Kepala Sekolah

Analisis SWOT Jabatan Kepala Sekolah – Analisis SWOT merupakan instrument perencanaaan strategis yg klasik. Dengan memakai kerangka kerja kekuatan dan kelemahan & kesempatan ekternal & ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana buat memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa yg bisa dicapai, dan hal-hal apa saja yg perlu diperhatikan sang mereka.Manajer adalah orang yang melaksanakan fungsi kerja sama dengan orang-orang, sementara pemimpin menghubungkan antara yang memimpin dengan bawahan sehingga menciptakan organisasi berkembang dan bersinergi (Michael, Macooby. 2009).

Analisis SWOT merupakan salah satu metode buat mendeskripsikan syarat & mengevaluasi suatu kasus, proyek atau konsep bisnis yang menurut faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats. Metode ini paling seringkali dipakai dalam metode evaluasi bisnis buat mencari taktik yg akan dilakukan. Analisis SWOT hanya mendeskripsikan situasi yang terjadi bukan menjadi pemecah kasus. Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu:

1. Strengths (kekuatan)
Merupakan syarat kekuatan yang terdapat pada organisasi, proyek atau konsep bisnis yg ada. Kekuatan yg dianalisis adalah faktor yg masih ada pada tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Adapun syarat kekuatan yg terdapat pada ketua sekolah itu sendiri adalah :

– Potensi Kepala Sekolah
Setiap kepala sekolah memiliki potensi dan perhatian yang relatif tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Perhatian tadi harus ditujukkan dalam kemauan & kemampuan buat berbagi diri dan sekolahnya secara optimal.

– Harapan terhadap kualitas pendidikan
Kepala sekolah profesional dalam kerangka berpikir baru manajemen pendidikan mempunyai asa yang tinggi buat menaikkan kualitas pendidikan, serta komitmen, dan motivasi yg bertenaga buat menaikkan mutu sekolah yg optimal. Harapan yang tinggi dari banyak sekali dimensi sekolah merupakan faktor mayoritas yang mengakibatkan sekolah selalu bergerak maju buat melakukan pemugaran secara berkelanjutan (continuous quality improvement).

2. Weakness (kelemahan)
Merupakan kondisi kelemahan yang masih ada pada organisasi, proyek atau konsep usaha yang terdapat.Kelemahan yg dianalisis merupakan faktor yg masih ada pada tubuh organisasi, proyek atau konsep usaha itu sendiri. Adapun kondisi kelemahan yg ada pada kepala sekolah itu sendiri adalah :

– Wawasan ketua sekolah yang masih sempit
– Rendahnya produktivitas kerja
– Belum tumbuhnya budaya mutu

3. Opportunities (peluang)

Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yg terjadi. Kondisi yang terjadi adalah peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep usaha itu sendiri. Contohnya kompetitor, kebijakan pemerintah, syarat lingkungan lebih kurang. Faktor dominan peluang kepala sekolah pada kerangka berpikir baru manajemen pendidikan meliputi :

– Gerakan peningkatan kualitas pendidikan yang dicanangkan pemerintah
Upaya mempertinggi kualitas pendidikan monoton dilakukan baik secara konvesional juga inovatif. Hal tadi lebih terfokus lagi selesainya diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional merupakan buat mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan.

– Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan
Pada ketika ini, pihak Depertemen Pendidikan Nasional sudah melakukan pengenalan peningkatan kualitas pendidikan pada berbagai wilayah kerja, baik pada pertemuan-rendezvous resmi maupun melalui pembinaan awal yg berkaitan menggunakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Hal ini merupakan faktor pendukung, sebagai akibatnya para kepala sekolah bisa memahami manajemen peningkatan mutu pendidikan, serta operasinya di sekolah masing-masing.

– Organisasi formal & informal
Di lingkungan pendidikan sekolah dalam aneka macam wilayah Indonesia, berdasarkan Sabang sampai Merauke umumnya sudah mempunyai organisasi formal terutama yg herbi profesi pendidikan misalnya Kelompok Kerja Pengawasan Sekolah (KKPS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kepalah Sekolah (MKS), Dewan Pendidikan, & Komite Sekolah. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung tumbuh kembangnya ketua sekolah profesional yang sanggup melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan di daerah kerjanya.

– Organisasi profesi
Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah buat membantu pemerintah pada menaikkan kualitas pendidikan misalnya KKPS, K3S, MKS, Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Pengajar Mata Pelajaran (MGMP), PGRI, Forum Peduli Pengajar (FPG), dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir di seluruh Indonesia, & telah menyentuh banyak sekali kecamatan. Organisasi profesi tadi sangat mendukung kepala sekolah profesional yang sanggup peningkatan kinerjanya dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendiodikan nasional.

4. Threats (ancaman)

Merupakan syarat yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep usaha itu sendiri. Adapun faktor penghambat (ancaman) ketua sekolah profesional buat menaikkan kualitas pendidikan mencakup :

– Sistem politik yg kurang stabil
Sistem politik yg kurang stabil pada tatanan kehidupan berbangsa & bernegara, telah menyebabkan berbagai masalah dalam hidup dan kehidupan di warga , merupakan factor penghambat tumbuhnya kepala sekolah professional. Wakil-wakil masyarakat di dewan yg lamban & plin-plan dalam merogoh suatu prakarsa, & selalu menunggu demonstrasi rakyat pada mengmbil suatu keputusan merupakan suatu system politik yang kurang stabil & kurang menguntungkan. Kondisi semacam ini sangat mewarnai berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, bersama komponen-komponen yang tercangkup didalamnya. Pengembangan sumber daya pembangunan melalui system pendidikan yg memadai perlu ditunjang sang system politik yg stabil.

– Pengangkatan kepala sekolah yang belum transparan
Hal merupakan keliru satu faktor penghambat tumbuh kembangkan kepala sekolah professional. Hasil kajian memperlihatkan bahwa pengangkatan kepala sekolah dewasa ini belum atau nir melimbatkan pihak-pihak mesyasarakat tentang jabatan ketua sekolah selama 4 tahun & setelahnya itu dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya, belum dapat dilaksanakan. Hal tersebut secara pribadi merupakan penghambat tumbuhnya kepala sekolah professional yg sanggup mendorong visi sebagai aksi pada peningkatan kualitas pendidikan.

– Kurang wahana & prasarana
Seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel (workshop), sentra sumber belajar dan perlengkapan pembelajaran sangat menghambat tumbuhnya ketua sekolah professional. Hal ini terutama berkaitan dengan kemampuan pemerintah untuk melengkapinya masih kurang. Disamping itu, walaupun pemerintah sudah melengkapi buku-buku panduan & kitab -kitab paket tetapi dalam pemanfaatannya masih kurang. Beberapa kasus menunjukkkan banyaknya paket yg belum didayagunakan secara optimal untuk kepentingan pembelajaran, baik pengajar juga sang peserta didik.

– Rendahnya agama warga

– Birokrasi
Birokrasi yang masih dipengaruhi feodalisme dimana peara penjabat lebih suka dilayani daripada melayani masih masih inheren di lingkungan Dinas pendidikan. Kebiasaan lain misalnya lemahnya merogoh prakarsa (inisiatif) dan selalu menunggu juklak dan juknis nir menunjang bagi tumbuh kembangnya kepala sekolah professional buat menaikkan kualitas pendidikan. Disamping itu dalam lingkungan sekolah perilaku kepemimpinan ketua sekolah cenderung kurang transparan dalam mengelolah sekolahnya. Hal ini menyebabkan kurang percayanya energi kependidikan terhadap kepala sekolah, sehinggan bisa menurunkan kinerja pada menaikkan kualitas pendidikan pada sekolah. Di samping kurang berdikari, hambatan lain yang memperlemah kinerja ketua sekolah adalah kurang adanya rasa krisis, rasa memilki, rasa krusial terhadap kualitas pendidikan, sebagai akibatnya menyebkan lemahnya tanggung jawab, yang dapat menurunkan partisipasi dalam kegiatan sekolah.

Sumber: https://tinyurl.com/yb3neqyd

Author: eadp0