Materi Pendidikan dan Penyesuaian diri

Materi Pendidikan dan Penyesuaian diri

Materi Pendidikan dan Penyesuaian diri

Materi Pendidikan dan Penyesuaian diri
Materi Pendidikan dan Penyesuaian diri

 

ABSTRAKSI
 gensei.co.id –    Siapapun dia, untuk pertama kalinya mempelajari Sosiologi Pendidikan maka sesungguhnya secara tidak sadar dia telah berada dalam alam sosiologi pendidikan itu sendiri. Segala pengalaman manusia -semenjak buaian sampai liang lahat- sebenarnya mengandung unsur sosiologi dan pendidikan yang amat luas. Dapat dilihat dari interaksi dirinya dan orangtuanya, tetangga dan masyarakat lainnya. Terlihat disana adanya hubungan timbal balik diantara dirinya dan manusia lainnya. Inilah yang umumnya disebut sebagai bahasan sosiologi.
            Setiap peserta didik dalam pendidikan formal, tentunya akan menghasilkan output yang berbeda-beda. Hal ini bukan hanya karena pebedaan karakteristik dan bakat saja, akan tetapi karena pengaruh lingkungan sosial yang berlainan. Peserta didik datang ke sekolah/kampus dengan membawa berbagai daya sosial yang saling berlainan satu sama lain. Dengan memahami hal ini, penyelenggara pendidikan formal (guru/dosen, ustadz, dan lainnya) maupun informal (abang, kakak, orangtua, tokoh masyarakat dan lainnya) tentunya akan dituntut untuk lebih bijak dalam mendidik -baik formal maupun informal- seseorang. Sebab dalam perkembangannya, setiap peserta didik harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Jika hal ini tidak dicermati oleh penyelenggara pendidikan niscaya dia akan diperlakukan dengan sewenang-wenang atas nama institusi dan lainnya. Hal inilah yang disebut Paulo Freire sebagai distorsi pendidikan.

BAB II
PENDAHULUAN
            Sebelum lebih jauh memasuki zona pembahasan, alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu diketahui definisi dari sosiologi, pendidikan, sosiologi pendidikan, dan definisi penyesuaian diri dalam konteks sosiologi pendidikan.
            Pitirim Sorokin -sebagai mana yang dikutip Soerjono Soekanto- berpendapat,[1] bahwa sosiologi berarti suatu ilmu yang mempelajari tiga hal: (1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, (2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala non-sosial, dan (3) Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
            Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia[2] berarti: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, preses, perbuatan, cara mendidik.
            Sosiologi Pendidikan berarti disiplin ilmu yang membahas tentang berbagai macam gejala umum sosial yang terdapat dalam pendidikan. Atau bahasa lainnya, sosiologi pendidikan berarti tinjauan sosiologis terhadap proses pendidikan.[3]
            Sedangkan penyesuaian diri (adjustment/adaptation) didefinisikan oleh Prof. DR. S.Nasution, MA,[4] ialah sebagai proses sosialisasi. Sedangkan sosialisasi yang dimaksud olehnya ialah: proses membimbing individu ke dalam dunia sosial.
Jadi secara terminologi dapat disimpulkan, bahwasanya penyesuaian diri dalam konteks pendidikan formal ialah: proses pembiasaan (adaptasi/sosialisasi/ adjustment) peserta didik terhadap lembaga pendidikan secara makro. Atau kemungkinan juga bisa juga didefinisikan: proses pembiasaan penyelenggara pendidikan untuk membimbing peserta didik mencapai target pendidikan dengan mendidik, mengajar dan/atau melatih. Serta proses timbal balik antara sosio kultural mayarakat, penyelenggara pendidikan, peserta didik dan lainnya.
Mungkin jika diilustrasikan, definisi tersebut barangkali akan terlihat seperti dibawah ini:
KETERANGAN:
                        =          Akses instruksi/adaptasi Atasan secara langsung kepada penyelenggara pendidikan. Atau sosialisasi penyelenggara pendidikan kepada peserta didik untuk mencapai target pendidikan yang disesuaikan dengan sosio kultural masyarakat dan lainnya.
                        =          Akses langsung sosialisasi peserta didik dengan teman sejawatnya di sekolah. Atau Akses Langsung Atasan penyelenggara pendidikan dengan sosio kultural masyarakat dan lainnya.
                        =          Akses tidak langsung dari Atasan penyelenggara pendidikan kepada peserta didik. Atau akses tidak langsung dari sosio kultural masyarakat dan lainnya kepada penyelenggara pendidikan.
                        =          Adaptasi/Penyesuaian diri peserta didik kepada atasan penyelenggara pendidikan dan sosio kultural masyarakat dan lainnya secara langsung atau tidak langsung.
                        =          Adaptasi/Penyesuaian diri peserta didik kepada penyelenggara pendidikan atau atasannya secara langsung.
BAB III
PENYESUAIAN DIRI PESERTA DIDIK (STUDENT ADJUSTMENT/ ADAPTATION/SOCIALIZATION)

A. PROSES PENYESUAIAN DIRI

            Penyesuaian diri ada dua format: (1) autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), dan (2) aloplastis (alo = yang lain, plastis = dibentuk). Autoplastis secara terminologi berarti mengubah diri (adaptasi/sosialisasi, pen) sesuai dengan lingkungan. Sedangkan aloplastis berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri. [5]
            Contoh autoplastis adalah mahasiswa UIN Jakarta yang mendapat kesempatan menuntut ilmu S2 di perantauan. Maka mahasiswa tersebut harus menyesuaikan diri dengan sosiokultural yang ada dan geografis tentunya. Semisal dia harus memakai bahasa Inggris (jika di Eropa/Amerika) atau bahasa Arab (jika di kawasan Timur Tengah) dan seterusnya. Sedangkan aloplastis contohnya adalah mahasiswa tersebut ketika sampai pada tempat penginapannya (kost dan lain sebagainya) maka dia mengganti segala apa yang ada di kamarnya sesuai dengan keinginannya, semisal warna sarung bantal yang berbeda, mencat tembok, dan seterusnya. Dan dalam pembahasan selanjutnya yang menjadi stressing adalah autoplastis.

B. DELAPAN ASPEK PENYESUAIAN DIRI

Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang mempengaruhi penyesuaian diri, yaitu (1) keluarga, (2) lingkungan, (3) kepribadian, (4) rekreasi, (5) pergaulan, (6) pendidikan, (7) solidaritas, dan (8) pekerjaan.[6]
  1. Keluarga – Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home dimana anak tak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup, maka anak akan sulit mengembangkan penyesuaian dirinya. Hal ini dapat terlihat dari (a) kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding), (b) kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orangtua dan saudara, (c) kurang mampu berkomunikasi secara sehat, (d) kurang mampu mandiri, (e) kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara, (f) kurang mampu bekerjasama, dan (g) kurang mampu mengadakan hubungan yang baik. Untuk itu, orangtua mesti menjaga agar keluarga tetap harmonis. Keharmonisan tidaklah selalu identik dengan adanya orangtua “utuh” -ada ayah dan ibu-, sebab dalam banyak kasus orangtua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan orangtua adalah menciptakan suasana demokratis dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua maka segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya, komunikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, hanya akan memunculkan berbagai konflik yang berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional, sehingga dapat menyebabkan hubungan sosial antara satu sama lain menjadi rusak.
  2. Lingkungan – Sejak dini anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga), lingkungan keluarga (keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat luas. Sejak dini anak sudah mesti mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orangtua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
  3. Kepribadian – Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu menggambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini, remaja hendaknya tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Kepribadian disini sangat mempengaruhi penyesuaian individu.
  4. Rekreasi – Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi seseorang akan merasa mendapat kesegaran fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capai, bosan, monoton serta mendapatkan semangat baru untuk mendapatkan penyesuaian dirinya dengan baik.
  5. Pergaulan – Untuk dapat menjalankan peran menurut jenis kelamin, maka anak dan remaja seyogyanya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga.
  6. Pendidikan – Pada dasarnya sekolah mengajarkan berbagai penyesuaian diri kepada anak. Salah satunya adalah penyesuaian diri yang dikaitkan dengan cara-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Peran orangtua di sini, menjaga agar penyesuaian diri tersebut tetap dimiliki oleh anak atau remaja dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembangannya.
  7. Solidaritas – Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Seringkali remaja bahkan lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarganya. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Orangtua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.
  8. Pekerjaan – Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran di sekolah mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SMU, mereka dapat bimbingan karier untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan kerja dan keterampilan sosial yang dibutuhkan, maka remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi akan dapat bersiap untuk bekerja.

 

Mungkin masih banyak cara lain yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan penyesuaian dirinya. Satu hal yang harus selalu diingat, bahwa dengan membantu remaja dalam mengembangkan keterampilan sosial berarti telah membantu mereka dalam menemukan dirinya sendiri sehingga mampu berperilaku sesuai norma yang berlaku.
Sumber : Disini

Author: eadp0