Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan

Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan

Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan

Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan
Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Peribahasa itu persis dengan kegiatan di Elyon Christian School. Sembari bermain xiangqi, catur asal Tiongkok, para murid mengenal budaya.

NAMANYA anak-anak. Energinya banyak. Mereka tidak bisa diam. Karena itu, siswa-siswi SD Elyon kerap mengisi waktu luang dengan bermain board games. Terutama ketika waktu istirahat tiba.

Rupanya, board games sudah lama dihidupkan di Elyon. Tak hanya sebagai ekstrakurikuler, tetapi juga permainan sehari-hari. Lumayan, energi tersalurkan. Otak kian terasah. Misalnya, ketika bermain xiangqi.
Elyon Christian School Kenalkan Budaya lewat Permainan
Mengapa Harus Board Games (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Permainan dengan papan persegi tersebut menyerupai catur. Hanya, bentuk bidaknya berbeda. Permainan asli negeri Tiongkok itu memiliki bidak berbentuk bulatan pipih. Satu sama lain serupa. Namun, simbol di atasnya berbeda.

Simbol tersebut bertulisan huruf Mandarin. Tentu, itu menjadi sarana belajar bahasa Mandarin. Dengan mengetahui maksud simbol, barulah pemain tahu tugas dan cara jalan bidak tersebut. Yang jelas, tugasnya satu, menyingkirkan bidak lawan dari papan permainan.

Keberadaan xiangqi sangat pas dengan karakteristik Elyon. Sebab, sekolah di daerah Sukomanunggal itu menyisipkan banyak kebudayaan Tiongkok dalam pembelajaran.

Tak heran, banyak siswa yang menguasai xiangqi. Geoffrey Daniel Ong, misalnya. Pelajar kelas VI tersebut mengaku sudah lama bermain xiangqi. ”Biasa main sama Papa dan Engkong,” katanya.

Kendati demikian, Geoffrey mengaku tidak mengerti simbol yang terbubuh di atas setiap bidak. Dia juga mengaku tidak bisa membacanya. ”Pokoknya udah hafal,” tuturnya.

Rupanya, permainan itu menjadi ajang menorehkan prestasi. Salah satunya, Sharon Evelyna Hidajat. Bocah kelas VI tersebut sudah mengikuti kompetisi xiangqi antarsekolah. ”Dapat ranking IV. Waktu itu pas aku kelas IV,” ujarnya.

Sharon mengaku tertarik belajar xiangqi setelah terlebih dulu menguasai catur.

Permainan catur bahkan lebih banyak mengantarnya sebagai juara. Dia langganan menyabet piala KONI untuk cabor catur se-Surabaya selama tiga tahun terakhir. Rupanya, Sharon belajar catur sejak kelas I.

Sebelum xiangqi, catur memang berkembang lebih dulu di Elyon. Keduanya sama-sama jadi ajang adu kecerdikan antarsiswa. Dua permainan tersebut menjadi media untuk mengasah otak dan bersosialisasi dengan teman. Maklum, keduanya tidak bisa dimainkan sendiri.

Selain itu, masih ada board games lain yang dipelajari siswa. Sebut saja

, monopoli dan ular tangga. Permainan tersebut tersedia di kelas. Ada pula board games khas Indonesia. Yakni, dakon.

Mereka tak hanya belajar budaya negara lain. Ada permainan tradisional khas masyarakat Indonesia yang dikenal. Karena itu, proses belajar yang berlangsung tidak terasa karena dilaksanakan sambil bermain dan mengisi waktu luang.

Meskipun demikian, tetap tidak boleh memainkannya sembarangan.

Harus ada izin dari guru dan di bawah pengawasan. Sebab, seluruh board games yang disediakan disimpan dalam loker yang terkunci.

Hal itu diungkapkan Manajer Pengembangan Elyon Christian School Chopin Pranoto. Tujuannya, menghindari anak-anak bermain di luar jam istirahat. Karena itu, guru kelas memegang kunci loker dan membukanya kala istirahat.

Keberadaan board games memang diharapkan jadi ajang sosialisasi. Sebab, ujar Chopin, permainan tersebut tidak bisa dilakukan seorang diri. ”Mau tidak mau, anak akan bermain dengan temannya,” jelasnya.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/afiksasi-adalah.html

Author: eadp0