Role Position Approach to Leadership

Role Position Approach to Leadership

Role Position Approach to Leadership

Role Position Approach to Leadership
Role Position Approach to Leadership

 The role position approach to leadership

 mengasumsikan bahwa seseorang menjadi leader pada saat dia diposisikan sebagai pihak yang meemiliki otoritas. Otoritas adalah kekuatan yang sah yang ditetapkan dalam sebuah posisi tertentu dengan tujuan untuk memastikan bahwa orang yang berada di posisi bawah memenuhi persyaratan peraturan organisasi mereka.

 

          Seorang pemimpin biasanya dideskripsikan

sebagai seseorang yang berada pada posisi otoritas atau memegang suatu jabatan. Kepemimpinan dalam organisasi dimulai dengan struktur peran formal yang menetapkan hierarki dari otoritas. Otoritas sendiri merupakan kekuatan yang dipegang oleh orang yang memiliki kewenangan memastikan bahwa individu pada posisi yang lebih rendah mampu memahami peran dalam organisasi, karena seseorang dengan otoritas mampu mempengaruhi bawahannya. Misalnya, seorang mandor memiliki kewenangan untuk mengatur pekerjanya. Terdapat tiga permasalahan dalam pendekatan posisi kepemimpinan, yakni:

  1. Tidak jelas bagaimana seorang individu dapat ditunjuk sebagai otoritas atas dan tidakmenuntut kemampuan kepemimpinan. Misalnya, seorang yang memegang jabatan sebagai kepala bagian tidak mampu untuk berkoordinasi dengan staffnya.
  2. Tidak dapat dijelaskan bagaimana pemimpin dapat terlibat dalam perilaku bukan kepemimpinan dan justru bawahan yang melakukan tindakan kepemimpinan. Misalnya, seorang anggota dari bagian pemasaran bertindak sebagai kepala dengan melakukan tugas-tugas pemimpinnya.
  3. Bawahan bisa saja dipengaruhi oleh oranglain diluar dari seseorang yang memiliki otoritas secara langsung terhadap mereka. Misalnya, seorang manager di bagian pemasaran menyuruh seorang dari anggota bagian produksi untuk melakukan tugas dari anggotanya.

Influence Theory of Leadership

          Teori ini berhubungan dengan bagaimana seorang pemimpin memengaruhi sikap dan tindakan pengikutnya. Hal ini diperlukan dalam kepemimpinan agar pemimpin mampu mengarahkan para pengikut untuk bekerjasama dalam mengatur dan mencapai tujuan. Baik pemimpin maupun pengikut, keduanya memiliki keterkaitan yakni peran hubungan resiprokal (timbal balik). Peran tersebut yang membangun suatu kepemimpinan. Namun peran yang terbagi tidak berarti bahwa terjadi dominasi maupun pemakasaan dalam kepemimpinan. Jadi, pemimpin dapat dikatakan bertugas mengajak dan menginspirasi para anggota untuk mengikuti cara pandangnya dalam proses mencapai tujuan.

Situational Theories of Leadership

          Terdapat empat teori situasional, diantaranya: The distributed-actions theory;Bales’ interaction-process analysis;  Fiedler’s situational theory; dan Hersey andBlanchard’s situational theory.

The Distributed-Actions Theory of Leadership

          Dalam teori ini terdapat dua prinsip dasar. Prinsip pertama, banyak anggota dari suatu kelompok yang menjadi seorang pemimpin dengan melakukan tindakan yang saharusnya dilakukan pemimpin, yakni membantu kelompok mencapai tujuan dan mempertahankan relasi kerja secara efektif. Prinsip kedua, kepemimpinan bersifat spesifik untuk suatu kelompok khusus dalam sebuah situasi khusus.

Baca Juga :

Author: eadp0