5 Mahasiswa UK Petra Siapkan Project Aplikasi Layanan VR Menonton Teater

5 Mahasiswa UK Petra Siapkan Project Aplikasi Layanan VR Menonton Teater

5 Mahasiswa UK Petra Siapkan Project Aplikasi Layanan VR Menonton Teater

5 Mahasiswa UK Petra Siapkan Project Aplikasi Layanan VR Menonton Teater
5 Mahasiswa UK Petra Siapkan Project Aplikasi Layanan VR Menonton Teater

Career Camp 2019 UK Petra menjadi kesempatan lima mahasiswa Program Studi English for Creative Industry untuk mempertajam dan mengembangkan project ide menjadi sebuah start up. Kelima mahasiswa itu yakni: Emily Abigail, Nicholas Valentino Handoko, Erick Setiawan, Cherine Angelica Limina dan Ivania Tanoko.

Hal itu diakui Emily bahwa Career Camp cukup membantu, khususnya mengenai founding status serta marketing brand dalam pengembangan idenya agar seni teater lebih banyak dinikmati semua kalangan tanpa batasan.
Baca Juga:

UK Petra Jadi Tuan Rumah The 8th Asia Contest of The Architectural Rookie Award 2019
Perankan Susi Susanti, Laura Basuki Rasakan Susahnya Jadi Atlet
Mahasiswa UK Petra Desain Ruang Interior untuk Komunitas di Surabaya
IBT Petra Pertemukan 14 Tenant, Ini Tujuannya
Grup Teater Flying Baloons Puppet Concern Dengan Isu Lingkungan

“Ide projectnya, kita ingin membuat sebuah layanan dalam sebuah aplikasi

untuk memudahkan semua orang menonton seni teater,” katanya usai menerima materi dari pendiri Dagadu di Yogyatorium, Kamis (8/8/2019).

Konsepnya, lanjut Emily didampingi timnya, dirinya bersama empat rekannya akan membuat aplikasi bernama Pentassini yang bisa didownload secara gratis. Kemudian di dalam aplikasi itu, penikmat teater bisa memutar rekaman video pementasan melalui teknologi Virtual Reality (VR).
Emily Abigail

“Jadi, dengan teknologi ini (VR), penonton akan lebih mudah mengakses video teater

sekaligus merasakan suasana dan atmosfir dalam gedung,” jelasnya.

Namun, penonton teater melalui aplikasinya tetap akan dikenai biaya setiap memutar video rekaman sebagai profit share kepada para penampil. “Tentu saja penonton tetap akan membayar setiap memutar video yang dilihat, seperti mereka membeli tiket. Nah, profit ini yang akan kita share ke para penampil teater yang pementasannya kita rekam. Dan hasil itu, entah berapa persen akan kita bagi secara berkelanjutan. Jadi konten ini seperti Nexflix, tapi khusus teater,” ujarnya.

Awal ide tersebut, kata Emily, muncul setelah rekan-rekannya yang juga memiliki latar belakang

sebagai pemain teater kampus, merasa dibatasi oleh akses saat ingin menyaksikan pementasan. “Selama ini, kita dibatasi akses seperti kita dari Surabaya yang ingin melihat teater di Jogja, harus menyiapkan biaya lebih seperti tiket dan transportasi. Nah, dari situlah gagasan ide tersebut muncul,” jelasnya.

 

Sumber :

https://danu-aji-s-school.teachable.com/blog/190508/internetistheplace

Author: eadp0