Mubarak Terlena Begitu Lama

Mubarak Terlena Begitu Lama

Mubarak Terlena Begitu Lama

Mubarak Terlena Begitu Lama
Mubarak Terlena Begitu Lama

Kesalahan inti Presiden Mesir Hosni Mubarak adalah begitu lama terlena dengan kekuasaan. Hal ini ditambah dukungan konstan dari sekutu utama, Amerika Serikat, yang membuat Mubarak alpa memakmurkan warga. Yang lebih parah, Mubarak berniat mewariskan kekuasaan kepada putranya.

Gamal Mubarak, putra Hosni Mubarak yang dipersiapkan sebagai pengganti, kini turut jatuh dari kehormatan. Semua itu menjadi akar keruntuhan pamor Mubarak. Proses politik di Mesir akhir-akhir ini memperjelas arah ke pembentukan dinasti politik Mubarak.

Di dalam negeri, Mubarak dikenal sebagai pemimpin yang reaktif terhadap kritik. Ia dengan mudah menangkapi para pengkritik. Hal itu diperburuk ketimpangan pendapatan selama 30 tahun pemerintahan Mubarak.
Mohamed A El-Erian, pemimpin utama Pimco, perusahaan investasi global, adalah putra seorang diplomat Mesir dan masih memegang paspor Mesir. Ia mengatakan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin relatif tinggi. Ini menjadi keprihatinan lama warga Mesir. “Ada pertumbuhan ekonomi, tetapi hasilnya tidak menetes ke bawah,” katanya di New York, Amerika Serikat (AS), Minggu (6/2/2011).

Dari Minsk, pakar politik Belarus, Dr Vitali Silitski, yang mempelajari sejarah pemerintahan otoriter dunia, memetakan kisah yang menimpa Mubarak. Menurut dia, berbagai tindakan represi di dalam negeri turut melemahkan dukungan internasional. Tindakan represif yang sudah terjadi lama di Mesir ditambah niat memperkuat kroni membuat dukungan internasional kepada Mubarak melemah.

Diktator pasti gentar

AS, yang dipimpin Partai Demokrat, memiliki tradisi soal penegakan demokrasi di seantero dunia. Momentum bagi Mubarak sangat tidak tepat dengan kekuasaan AS sekarang yang berada di bawah Presiden AS Barack Obama dari Partai Demokrat.

Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy juga senada dengan Obama yang meminta transisi di Mesir harus terjadi.

Kejadian di Mesir diingatkan agar menjadi perhatian para diktator atau pemimpin yang tidak mendengarkan aspirasi rakyat. ”Jika saya Hu Jintao (Presiden China), saya akan gugup sekarang ini,” kata Aryeh Neier, Presiden Open Society. ”Jika Anda seorang diktator, hal yang paling menakutkan dari kejadian di Mesir adalah pemberontakan warga yang begitu mendadak,” ujarnya.

Dari Kairo, Mesir, diberitakan bahwa tekanan kepada Mubarak tak kunjung sirna. Alun-alun Tahrir yang terletak di jantung kota Kairo sudah menjadi mimbar pengungkapan perasaan anti atau kebencian terhadap pemerintahan Mubarak.

Massa antipemerintahan Mubarak, Minggu siang, terus berduyun-duyun menuju Alun-alun Tahrir. Sekelompok warga Mesir yang berasal dari Provinsi Qalyubiyah (sekitar 40 kilometer arah utara Kairo) sudah empat hari berada di Alun-alun Tahrir. ”Saya bersama anak saya dan teman-teman sudah empat hari berada di sini. Saya tidak akan pulang sebelum tuntutan rakyat terpenuhi,” kata Adnan (41) di kemahnya di Alun-alun Tahrir. Ia menyampaikan tuntutannya, yaitu Mubarak harus mundur, pemberantasan korupsi, dan penegakan keadilan sosial.

Adnan, yang mengaku mempunyai enam anak, juga menyampaikan kesulitan menghidupi keluarganya. Ia menegaskan, harus ada perubahan untuk bisa memperbaiki nasibnya.

Sumber : https://chicagobearsjerseyspop.com/

Author: eadp0