Potret Perjuangan STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh

Potret Perjuangan STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh

Potret Perjuangan STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh

Potret Perjuangan STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh
Potret Perjuangan STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh

SETIAP akademisi, dosen, dan mahasiswa tentu berkeinginan menempati gedung megah

agar bisa belajar dan menempuh pendidikan dengan nyaman, serta fasilitas yang menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar.
Berita Terkait
BNNP Aceh Usulkan Hukum Cambuk bagi Pengguna Narkoba Pemula
Dugaan Korupsi Pembangunan Pasar Modern Aceh Barat Daya Harus Diusut

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Barat, keberadaan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tengku Dirundeng Meulaboh (TDM) selalu menarik perhatian, selain statusnya sebagai perguruan tinggi negeri yang baru.

Kondisi gedung yang terhimpit pertokoan menjadi unik

, karena memiliki lingkungan yang sungguh sempit.

Sehingga, demi menampung sekitar dua ribu mahasiswanya, kampus ini harus menyewa gedung lain.

Itulah gambaran dari kondisi STAIN TDM sebelum memasuki era baru seperti saat ini. Banyak proses yang telah dilewatinya hingga berhasil mencetak ratusan alumni.

Bahkan, tak sedikit pula konflik yang timbul dari oknum yang tidak terpuaskan oleh keberadaan lembaga pendidikan tinggi itu.

Salah satunya, polemik pengangkatan rektor yang dianggap teranulir

kepentingan dan lobi-lobi politik tingkat elit.

Tapi, sudahlah. Semua itu berlalu dalam sekejap. Dan, kini, pembangunan terus digencarkan demi pendidikan yang lebih baik di masa mendatang.

Pada tanggal 19 September 2019, impian para kaum intelektual di sana untuk mendapat istana sebagai tempat belajar, terwujud.

Setelah menghadapi berbagai mekanisme hukum, gedung 3 lantai itu kini dapat diduduki, meskipun saat ini masih bersengketa dan persidangannya sedang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh.

Melansir portal Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Meulaboh, soal lahan Gedung STAIN TDM masih dalam tahap persidangan di Pengadilan tersebut.

Gugatan ini diajukan Irwan Gunawan TU alias Irwan TU alias T. Ridwan TU, M. Yunus, Syahril Saputra, Rustam Efendi, Herlan Toni, dan Suharti yang memiliki lahan di lokasi tersebut.

Sesuai perkara Nomor 2/Pdt.G/2019/PN Mbo, mereka menggugat Bupati Aceh Barat, Yayasan Pendidikan Teuku Umar Johan Pahlawan, Kementerian Agama Republik Indonesia, STAIN TDM, dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Barat.

Tak hanya itu. Ada juga Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Cut Ida Khairani, S.H,M.Kn, PT. Harum Jaya, dan PT. Belalang Jaya Prima, sesuai klasifikasi perkara tentang perbuatan melawan hukum dengan 13 tuntutan dalam pokok perkara yang dilayangkan.

 

Baca Juga :

Author: eadp0