Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak

Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak

Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak

Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak
Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak

Setiap anak adalah embrio masa depan. Sebegitu pentingnya pengasuhan anak

, sehingga tak salah jika Plato mengemukakan teori untuk memperbaiki generasi yang akan datang dengan eugenetika, dimana manusia dengan sifat unggul diundang pada sebuah pesta pengantin semalaman, lalu anak yang dilahirkan akan dididik oleh negara (panti asuhan negara). Setiap anak akan mendapatkan pengajaran sesuai kemampuannya. Sistem ini disebut koedukasi.

Anak yang gesit dan berani akan dimasukkan dalam golongan prajurit, anak yang cerdas akan melanjutkan ke pendidikan filosofis idea, sementara anak yang tidak lolos keduanya akan menjalani kerja produktif sesuai keahliannya. Saat berumur 50 tahun, yang memiliki kualitas kebijaksanaan, keadilan, dan bakat rasional (kemampuan mewujudkan “yang paling baik” dalam dirinya) akan bergelar filsuf.

Begitulah konsep Negara Plato. Pendidikan merupakan hal yang paling utama,

sebab dari pendidikan yang terprogram akan melahirkan seorang pemimpin filsuf, pemimpin yang diharapkan mengakhiri kesengsaraan umat manusia dari ketidakadilan.

Prinsip dasar pendidikan menurut Plato adalah menjadikan manusia sebagai perfect citizen yang mengerti fungsi dan peranan dirinya dalam bermasyarakat. Sehingga pendidikan anak tidak semata-mata untuk dijadikan komoditas yang berorientasi pada suplai tenaga kerja, hanya menjadi robot budak mesin industri, teralienasi dari hasil kerjanya sendiri.

Plato juga menekankan pendidikan budi pekerti sebelum pendidikan logika dengan tujuan

mempertahankan sifat baik anak dan mengembangkannya, atau dengan kata lain excellence with morality.

 

Sumber :

https://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/podcast-addict/

Author: eadp0