Pengertian dan Hukum Wasiat

Pengertian dan Hukum Wasiat

Pengertian dan Hukum Wasiat

Kata wasiat berasal dari bahasa Arab yang artinya pesan. Sedangkan menurut istilah artinya sesuatu pesan khusus tentang suatu kebaikan yang kan dilaksanakan setelah seorang yang berwasiat meninggal dunia.[1][2] Adapun pengertian wasiat pada pembahasan ini tidak hanya pesan-pesan yang berkaitan dengan harta saja, melainkan juga yang terkait tentang hak.[2][3] Misal yang berkaitan dengan harta, sebelum meninggal dunia seseorang berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada anak angkatnya. Sebagai contoh yang berkaitan dengan hak, seperti mengurus sesuatu setelah sepeninggalnya seperti contoh sebelum meninggal ia berwasiat untuk kepada seseorang untuk mengurusi anak-anaknya. Diantara bentuk wasiat untuk mengurusi sesuatu adalah apa yang telah dilakukan oleh Amirul Mukminin, ‘Umar Ibu Khottob RA. Ketika menentukan bahwa kekhalifahan setelahnya ditunjuk melalui musyawarah antara enam sahabat Rasulullah SAW..[3][4] Wasiat dalam pembagian harta peninggalan ini hanya berlaku kepada orang lain bukan kepada ahli warisnya.

Pengertian dan Hukum Wasiat
Pada permulaan Islam, hukum berwasiat terhadap kerabat dekat hukumnya wajib sebagaiman firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 180:
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّة لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ حَقَّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “diwajibkan atas kamu apabila seseorang diantar kamu kedatangan maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk bapak, ibu dan karib kerabatnya secara ma’ruf, ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 180)[4][5]
Namun dengan turunnya ayat-ayat maupun dalil-dalil tentang warisan, hukum wajib yang terkandung dalam ayat tersebut diatas menjadi mansukh (terhapus).[5][6] Sehingga hukumnya berubah menjadi sunnah yaitu dalam sepertiga harta peninggalan mayyit dan diberikan kepada selain ahli waris.[6][7]
Hukum wasiat bila ditinjau dari segi cara maupun obyeknya adakalanya:
1. Wajib, dalam hal ini yang berhubungan dengan hak Allah seperti zakat, fidyah puasa dan lain-lain yang merupakan hutang yang wajib ditunaikan.
2. Sunnah, apabila berwasiat kepada selain kerabat dekat dengan tujuan kemaslahatan dan untuk mengharapkan ridlo Allah SWT.
3. Makruh apabila hartanya sedikit tetapi ahli warisnya banyak, serta keadaan mereka sangat memerlukan harta warisan tersebut untuk digunakan sebagai penunjang kehidupannya.
4. Haram apabila harta yang diwasiatkan untuk tujuan yang dilarang oleh agama. Misalnya seseorang berwasiat kepada fulan untuk membangun tempat perjudian atau perzinahan.[7][8]

baca juga :

You May Also Like

About the Author: eadp0