Menyikapi Isu Pembakaran Al Qur’an Menurut Al Qur’an

Menyikapi Isu Pembakaran Al Qur’an Menurut Al Qur’an

Menyikapi Isu Pembakaran Al Qur’an Menurut Al Qur’an

Menyikapi Isu Pembakaran Al Qur’an Menurut Al Qur’an
Menyikapi Isu Pembakaran Al Qur’an Menurut Al Qur’an

(Pengurus LAKPESDAM NU Cabang Surabaya)

Sejak menyatakan akan membakar Al-Quran, Terry Jones terus menjadi pusat perhatian dunia. Pria 58 tahun ini adalah pendeta di Dove World Outreach Center, sebuah gereja kecil di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, sejak 1996. Meskipun akhirnya dibatalkan kontroversi yang diakibatkan dari rencana gila ini masih dapat dirasakan.

Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya Ayat-Ayat Fitna disebutkan bahwa ada 2 tuntunan umum bagi umat Islam saat menghadapi pelecehan terhadap Islam. Pertama, Meningkatkan informasi yang benar serta terus berdakwah menjelaskan ajaran Islam dalam bentuk lisan, tulisan dan tingkah laku sebagai ajaran yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah dan nilai-nilai Islami dan dalam saat yang sama berpaling/menampakkan tanda-tanda tidak menyetujui sikap lawan-lawan yang melecehkan itu ( lihat QS. Al A’raf [7] : 99 ) & ( lihat QS. Al Hijr [15] : 94 ). Kedua, Menahan emosi agar tidak bertindak dengan tindakan yang dapat merugikan citra umat Islam atau jalannya dakwah ( lihat QS. Ali Imran [3] : 186 )

Demikianlah tuntunan umum yang disampaikan oleh seorang pakar Al Qur’an yang tidak diragukan lagi kapasitasnya dalam menafsirkan Al Qur’an, M. Quraish Shihab. Sekalipun demikian, disana-sini masih terlihat ekspresi spontan maupun terorganisir dari kaum muslimin di berbagai belahan dunia merespon rencana pembakaran Al Qur’an oleh Pendeta Terry Jones.

Menurut hemat penulis, ekspresi spontan maupun terorganisir ini terjadi karena Islam sebagai ajaran terlalu sering dikalahkan oleh Islam sebagai gerakan. Apakah itu gerakan sosial, ekonomi, maupun politik. Akibatnya adalah timbulnya kesan “melebih-lebihkan”, “membesar-besarkan”, segala sesuatu yang sebetulnya “biasa-biasa saja” menjadi seolah-olah menjadi “luar biasa”. Campur tangan media tidak bisa diabaikan meski faktor kesadaran kaum muslimin untuk mengkritisi media masih jauh dari harapan.

Ambil contoh konflik Palestina-Israel. Sudah sejak lama konflik ini menjadi bahan bakar utama untuk “menghangatkan” konstituen salah satu partai yang menyebut dirinya partai dakwah. Namun tidak ada yang menelisik sedemikian jauh peran mereka, efektifitas gerakan ini dalam menghentikan konflik Palestina-Israel yang sebenar-benarnya sebagaimana yang diimpikan oleh warga Palestina sejak dulu. Akibatnya, demontrasi besar-besaran sejuta umat, dua setengah juta umat sampai sebelas juta ummatpun hanya menarik dilihat di layar kaca atau menghiasi sampul depan koran-koran terkemuka. Nilai plus lainnya adalah bagi Event Organizer demonstran semacam ini pemilihnya bisa naik 2-3 kali lipat setiap Pemilu.

Menurut hemat saya, Al Qur’an diolok-olok, dilecehkan, dicaci maki oleh siapapun yang non muslim sebetulnya adalah hal yang “biasa-biasa saja”. Pertama, sudah barang tentu itu bisa dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak mengimani kebenaran Al Qur’an sebagaimana umat-umat terdahulu. Sebabnya adalah karena mereka angkuh, dan tidak tahu akan kemuliaan Al Qur’an itu sendiri. Akan menjadi persoalan serius bila yang mengolok-olok itu adalah komunitas pesantren, ormas-parpol Islam, dsb. Bila ini terjadi, tentunya akan menjadi keprihatinan kita semua. Kedua, kejadian semacam ini adalah pengulangan dari peristiwa serupa di masa lalu yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas secara sosial, politik, maupun kebudayaan. Masih belum hilang dari ingatan kita soal kartun nabi dan rilis film FITNA yang menghebohkan itu. Oleh karenanya membiarkan umat Islam terombang-ambing dalam merespons sesuatu yang “biasa-biasa saja” adalah menggelikan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan ????? Saya cenderung mengembalikan penafsiran keagamaan sebagai ajaran sebagaimana yang sudah diterangkan oleh M. Quraish Shihab dalam “Ayat-Ayat Fitna” di atas. Menurut saya, justru pelecehan agama Islam dengan segala atributnya ( Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Al Qur’an, Palestina, Masjid, dsb ) adalah momentum terbaik bagi umat Islam untuk meningkatkan penyebaran informasi yang benar tentang Islam. Selanjutnya, informasi yang paling tepat, akurat, terukur, objektif dan dipertanggungjawabkan adalah keseharian umat Islam itu sendiri dalam berpolitik, berkenomi, dan berkebudayaan. Menurut hemat saya, kemarahan atas pelecehan Al Qur’an harus dibarengi dengan semangat untuk mengamalkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ketinggian peradaban Islam cukup dibuktikan dengan ketiadaan seorang muslimpun di dunia ini yang membakar Bibel sekalipun mereka tidak mengimaninya. Sebab bila itu dilakukan adalah suatu kebodohan yang luar biasa. Segala bentuk propaganda, agitasi, black campaign tentang Islam tidak akan banyak berarti selama umat Islam sendiri secara konsisten menampilam “cahaya”nya tanpa terpengaruh sedikitpun.

Kalau begitu perlukah SBY mengirim surat kepada Obama di saat seorang tunanetra kehabisan napas ketika antri di Istana, kasus Malasysia tidak tuntas, “bom” elpiji meledak dimana-mana?????? Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/

You May Also Like

About the Author: eadp0