ADAT SEBAGAI KEBUDAYAAN KITA

ADAT SEBAGAI KEBUDAYAAN KITA

Di dalam adat, yang di dalamnya ada termasuk hukum adat adalah nama lain bagi KEBUDAYAAN RAKYAT KITA. Pada mulanya di indonesia berlakunya hukum adat telah dibuktikan jauh sebelum era globalisasi, tepatnya pada jaman kerajaan majapahit dalam buku negarakertagama karya mpu Prapanca yaitu filsafat pancasila. Filsaafat budaya adat yang kini dinamakan filsafat pancasila berisi pandangan hidup beserta prinsip – prinsip yang lain dari apa yang disebut filsafat hidonisme. Adat kita berpangkal dari prinsip – prinsip : pertama, Kolektivitas atau kebersamaan dan kedua, tidak menganut khususnya materialisme tetapi idealisme.

Yang ingin dicapai filsafat adat adalah tercapainya derajat dan martabat keluhuran sebagai manusia. Dari itu menurut filsafat hidup adat, seorang manusia dalam hidupnya harus mengusahakan dirinya menjadi seorang yang berbudi luhur, dengan tahu malu yang tinggi. Di dalam filsafat hidup yang demikian, masyarakat yang diidamkan adalah suatu masyarakat yang tidak hanya makmur secara materiil saja, akan tetapi masyarakat yang penuh rasa kebahagiaan lahir batin bagi segenap warganya. Masyarakat yang demikian, di dalam adat dirumuskan sebagai masyarakat yang “tata, tentram, kertaraharja” 

Sehubungan dengan itu di dalam filsafat hidup adat, setipa orang di dalam masyarakat diajarkan untuk memegang teguh prinsip –prinsip moralistas dan kesusilaan yang tinggi. Itu berarti seorang warga masyarakat harus memiliki dan menjujung tinggi budi luhur. Orang yang demikian minimal adalah orang yang tau benar rasa malu. Seorang yang warga yang ideal adalah orang yang sanggup melaksanakan prinsip rela berkorban untuk masyarakatnya yang disebut pangabdian. Filsafat hidup yang dianut adat tersebut menunjukan bahwa kemakmuran materiil memang salah satu harapanya.

Di dalam filsafat adat, perjalan hidu bermasyarakat tidak sama berjalanya suatu mesin. Setiap orang mempunyai perasaan dan kemauannya yang tersendirinya, seorang individu karenaya memerlukan perlakuan yang lain dari individu lainya. Kemauan individu serta cita rasanya perlu diperhatikan di dalam menata kehidupan bermasyarakat. Dari itu dalam pengertian “masyrakat yang tertib”  atau  “yang bertata”, itu semua dituntut untuk memperoleh perhatian yag semestinya. Prinsip menata masyarakat dengan memakai prinsip “ENGINNEERING” tidak sesuai dengan filsafat adat. Mengatur dan menata hidup bermasyarakat adalah suatu seni yang  penuh langgam.

Suatu catatan terhadap filsafat adat sebagai filsafat rakyat kita ialah bahwa dalam kenyataannya, selain filsafat tersebut ada filsafat lain yang hidup pula yaitu filsafat hedonisme. Tetapi bekerjanya filsafat hedonisme dalam kalangan masyarakat kita berlangsung tidak terbuka.  Umumnya filsafat tersebut dicemoohkan dan dicela bila ada orang yang dengan terang-terangan menganutnya. Dari itu filsafat hedonisme dalam kehidupan  rakyat kita menjadi tertekan.

https://wisatalembang.co.id/stone-guest-apk/

You May Also Like

About the Author: eadp0