Cara Pengeringan Kayu

Cara Pengeringan Kayu

 

Cara Pengeringan Alami (Air Seasoning)

Cara pengeringan alami memperhatikan faktor suhu, kelembaban udara dan sirkulasi udara tidak dapat dikendalikan dan tergantung apa adanya (lingkungan dimana kayu tersebut dikeringkan). Selain itu pengeringan alami memakan waktu lama walaupun biayanya murah dan mudah dilakukan semua orang. Sortimen kayu yang dikeringkan masih mudah diserang jamur dan lain-lain organism perusak kayu bahkan mengalami retak dan pecah-pecah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam menyiapkan dan melaksanakan pengeringan alami adalah sebagai berikut (Kasmudjo, 2010):

  1. Lokasi/tempat merupakan hal yang perlu diperhatikan melalui luasnya harus memadai, tanahnya padat kering dan datar serta terbuka, kapasitas optimal.
  2. Pondasi tempat pengeringan harus dipersiapka dengan baik, kalau tidak kering harus dikeringkan atau diperkeras dan kalau belum rata harus diratakan.
  3. Cara penumpukan kayu sesuai dengan masing-masing cara penumpukan sortimen.

Pemantauan selama proses pengeringan harus selalu dilakukan, agar dapat diperoleh hasil pengeringan yang tepat yaitu waktunya cepat, hasil kayu yang dikeringkan berkualitas baik dan biayanya relative murah. Adapun beberapa pemantauan adalah sebagai berikut:

  1. Waktu atau lamanya pengeringan, terkait dengan biaya pengeringan.
  2. Adanya cacat-cacat kayu selama proses pengeringan.
  3. Keadaan ganjelnya, mungkin ada yang rusak, lepas atau hilang harus segera diganti.
  4. Aktivitas tenaga kerja yang menangani.
  5. Biaya-biaya tambahan yang timbul selama proses pengeringan.

Pengeringan alami sukar dikendalikan faktor luarnya, maka kemungkinan timbulnya cacat-cacat pada kayu yang dihasilkan relative lebih banyak dibandingkan dengan pengeringan di dalam tanur.

Cacat-cacat yang mungkin terjadi di dalam pengeringan alami umumnya berasal dari unsur-unsur kimia dalam kayu dan efek penyusutan yaitu:

  1. Adanya karat-karat yang berasal dari adanya jamur karat,adanya pewarnaan biru (blue stain) yang umumnya dimulai karena adanya jamur yang makan karbohidrat kayu tersebut.
  2. Cacat karena serangan jamur yang lama, misalnya jamur pewarna putih (mold), jamur pembusuk atau pelapuk yang memakan lignin atau selulosa kayu, dan jamur pewarna (decay) yang terjadi dalam waktu yang lama.
  3. Cacat karena serangan serangga perusak kayu, misalnya serangan kumbang (bubuk kayu) dan serangan rayap kayu.
  4. Cacat yang berasal dari proses penyustan kayu, misalnya retak permukaan ujung, pecah ujung (split), retak besar (crakes), pecah melintang (cross break), kayu longgar-lepas (knot-over), kayu melengkung (warp), dan lain sebagainya.

Sumber: https://solidaritymagazine.org/kominfo-pantau-situs-tenor-yang-diblokir/

You May Also Like

About the Author: eadp0