Masuknya Islam ke Brunei

Masuknya Islam ke Brunei

Sekalipun Brunei telah menerima Islam sebagai agama resmi sejak pemerintahan Sultan Muhammad Syah yang diperkirakan sejak 1368, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Ahmad dan diteruskan oleh menantunya Sultan Sharif Ali (wafat 1432), Islam diperkirakan telah tersebar di Brunei jauh sebelum itu, karena Brunei merupakan daerah transit dan persinggahan pedagang-pedagang Islam yang mengembangkan Islam ke wilayah ini.
Menurut riwayat China, pada 977, Raja Puni (sebutan Brunei menurut lidah Chinese) telah menghantar utusannya ke China diketuai oleh Pu Ya-Li, qadhi Kasim dan Seikh Noh. Namun tidak ditemukan data lebih lanjut tentang asal usul utusan tersebut, apakah dia orang pribumi Melayu asli sekaligus pendakwah Islam, atau pedagang Muslim dari luar (Hadramaut atau Yaman) dan tinggal di Brunei kemudian diutus ke China untuk misi perdagangan. Sebab, sebagaimana yang telah disinggung, Kerajaan Brunei pada awalnya adalah pusat perdagangan orang-orang China. Versi lain menerangkan bahwa sekitar abad ke-7 pedagang Arab dan sekaligus sebagai pendakwah penyebar Islam telah datang ke Brunei.

Berdasarkan data data di atas,

dipercayai bahwa Islam telah masuk ke Brunei jauh sebelum tahun 1368 namun Islam belum cukup berkembang secara luas. Barulah ketika Awang Alak Betatar memeluk islam dengan gelar Sultan Muhammad Syah. Islam mulai berkembang secara luas dan menjadi agama resmi bagi seluruh negara.
Awang Alak Betatar menganut islam dari Syarif Ali. Syarif Ali berasal dari Taif, seorang keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hassan. Pendekatan dakwah yang dilakukan Syarif Ali tidak sekedar menarik hati Awang Alak, dakwahnya menambat hati rakyat Brunei. Dia menanamkan ajaran Islam sesuai dengan ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dengan maazhab Syafi’i. Dia juga yang menunjukkan arah kiblat yang betul, karena ajaran Islam yang sebelumnya bercampur dengan ajaran Hindu-Budha. Dengan kebaikan dan sumbangan besarnya dalam dakwah islam di Brunei, beliau dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Shah. Setelah itu beliau dilantik menjadi Sultan Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat setempat. Sultan Syarif Ali wafat pada 1432 dan digantikan oleh putra baginda bernama Sultan Sulaiman. Keturunan Sultan Syarif Ali inilah yang melahirkan keturunan sultan dan raja-raja Brunei sampai saat ini.
Adapun raja-raja Brunei yang memerintah sejak resmi didirikannya dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan adalah (1)Sultan Muhammad Syah (1383-1402); (2)Sultan Ahmad (1408-1425); (3)Sultan Syarif Ali (1425-1432); (4)Sultan Sulaiman (1432-1485); (5)Sultan Bolkiah (1485-1524); (6)Sultan Abdul Kahar (1524-1530); (7)Sultan Saiful Rizal (1533-1581); (8)Sultan Shah Brunei (1581-1582); (9)Sultan Muhammad Hasan (1582-1598); (10)Sultan Abdul Jalilul Akbar (1598-1659); (11)Sultan Abdul Jalilul Jabbar (1669-1660); (12)Sultan Haji Muhammad Ali (1660-1661); (13)Sultan Abdul Hakkul Mubin (1661-1673); (14)Sultan Muhyiddin (1673-1690); (15)Sultan Nasruddin (1690-1710); (16)Sultan Husin Kamaluddin (1710-1730 & 1737-1740); (17)Sultan Muhammad Alauddin (1730-1737); (18)Sultan Omar Ali Saifuddien I (1740-1795); (19)Sultan Muhammad Tajuddin (1795-1804) & (1804-1807); (20)Sultan Muhammad Jamalul Alam I (1804); (21)Sultan Muhammad Kanzul Alam (1807-1826); (22)Sultan Muhammad Alam (1826-1828); (23)Sultan Omar Ali Saifuddin II (1828-1852); (24)Sultan Abdul Momin (1852-1885); (25)Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin (1885-1906); (26)Sultan Muhammad Jamalul Alam II (1906-1924); (27)Sultan Ahmad Tajuddin (1924-1950); (28)Sultan Omar ‘Ali Saifud-dien III (1950-1967); (29)Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah (1967-sekarang).
Semangat menyebarkan Islam dari Brunei ke wilayah Filipia Selatan, kebesaran Sultan Bolkiah dan perkembangan perdagangan di Brunei menimbulkan kecemburuan penguasa Spanyol di Manila. Itulah di antara penyebab kolonial Spanyol di Manila mengirim sepucuk surat kepada Sultan Saiful Rijal yang isinya menuduh Brunei menghasut orang-orang Islam di Filipina untuk memberontak terhadap kuasa Spanyol, meminta paksa agar diizinkan menyebarkan agama Kristen di Brunei. Saiful Rijal marah dan menolak isi surat tersebut. Kemudian Spanyol mengirim armada laut pada April 1578 guna menyerbu dan menundukkan Brunei namun usaha mereka gagal karena Saiful Rijal berhasil mengalahkan serbuan tersebut.
Sebelum meluasnya sistem pemerintahan baru ala barat yaitu keresidenan, Brunei pernah menjalankan suatu sistem pemerintahan yang terdiri dari Sultan, Jema’ah perunding dan Penasihat yaitu Duli-duli Wazir, Pengiran Bendahara, Pengiran Di-Gadong, Pengiran Temenggong, Pengiran Pemancha dan beberapa orang Ceteria (sebutan Melayu untuk satria). Mereka memiliki tugas dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri dalam pemerintahan.

Recent Posts

You May Also Like

About the Author: eadp0