PERKEMBANGAN ALIRAN MU’TAZILAH

PERKEMBANGAN ALIRAN MU’TAZILAH

Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati dari umat Islam, khususnya dikalangan masyarakat awam, karena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Muktazilah yang bersifat rasional dan filosofis. Alasan lain adalah kaum muktazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunah Rasulullah dan para sahabat. Aliran Muktazilah baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan Intelektual, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Al Ma’mun, penguasa Abbasiyah (198-218H/ 813-833M).[6] Kedudukan Muktazilah semakin kuat setelah al-Ma’mun menyatakan sebagai mazhab resmi Negara. Hal ini disebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan Ilmu pengetahuan dan filsafat.
Peristiwa yang paling menggemparkan dalam sejarah perjalanan Mu`tazilah ini adalah peristiwa Al-Quran ialah makhluk. Sebuah peristiwa yang telah menelan ribuan korban dan kaum muslimin, yaitu mereka yang tidak setuju pada pendapat bahwa Al-Quran adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Quran itu makhluk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak kadim. Jika Al-quran itu dikatakan kadim, maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang kadim selain Allah SWT dan hukumnya Musyrik. Mereka yang tidak sependapat tetap tetap bersikukuh pada pendapat mereka, bahwa Al-Quran adalah kalamullah sebagaimana yang dipahami oleh para salaf. Termasuk ulama yang mendapatkan ujian berat dari peristiwa Al-Quran makhluk ini adalah Imam Syafi`ie dan Imam Ahmad.
Khalifah al-Ma’mun menginstruksikan supaya diadakan pengujian terhadap aparat pemerintahan (mihnah) tentang keyakinan mereka akan paham ini. Menurut Al Ma’mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa Al-Quran adalah kadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting dalam pemerintahan. Dalam pelaksanaannya, bukan hanya aparat pemerintah yang diperiksa melainkan juga tokoh-tokoh masyarakat.Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemerintah yang disiksa, diantaranya Imam Hanbali, bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan ajaran muktazilah. Peristiwa ini sangat menggoncang umat Islam dan baru berakhir setelah al-Mutawakkil (memerintah 232-247H/ 847-861M).

Dimasa Al Mutawakkil, dominasi aliran muktazilah menurun

dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakkil membatalkan pemakaian mazhab Muktazilah sebagai mazhab resmi Negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah. Dalam perjalanan selanjutnya, kaum Muktazilah muncul kembali di zaman berkuasanya Dinasti Buwaihi di Baghdad. Akan tetapi kesempatan ini tidak berlangsung lama.
Selama berabad-abad, kemudian Muktazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlusunah waljamaah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini ialah buku-buku mereka tidak lagi dibaca di perguruan-perguruan Islam. Namun sejak awal abad ke-20 berbagai karya Muktazilah ditemukan kembali dan dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam seperti universitas al-Azhar.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pergerakan kaum Mu’tazilah yang meminjam tangan-tangan penguasa dan dengan menggunakan kekerasan dalam melancarkan faham dan ajarannya telah menimbulkan kebencian dikalangan masyarakat. Kondisi ini menjadi bumerang bagi dirinya, karena mosi tidak percaya yang dilancarkan oleh ummat Islam bukan saja menimbulkan kondisi yang chaos tetapi juga membahayakan bagi stabilitas negara.
Menyadari kondisi ini dan untuk menyelamatkan posisinya, pada tahun 234 hijriyah setelah al-Mutawakkil naik ke singasana kekholifahan menggantikan al-Watsik, dia mengemumkan tentang batalnya pendapat tentang kemahlukan Al Qur’an. Dia juga mengecam pendapat itu dan menetapkan untuk mengahiri perdebatan seputar kemahlukan Al Qur’an. Dia mencabut kebijakan pendahulunya yang telah menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab negara. Dia lebih menampakkan kecondongannya pada madzhab Ahlus Sunnah (muhadditsin)
Al Mutawakkil juga memberikan ruang yang lebar dan atmosfir kebebasan kepada kelompok sunni untuk menyampaikan pandangan-pandangannya yang bertolak belakang dengan Mu’tazilah. Dan mulai saat itulah pengajian-pengajian yang dimotori oleh para muhadditsin kembali semarak dilakukan dan mendapatkan tempat dihati masyarakat dan kalangan istana.


Sumber: https://robinschone.com/

You May Also Like

About the Author: eadp0